Minggu, 27 Desember 2020

 

Sajian Utama

Hari AIDS Sedunia.

Setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Tahun ini, Hari AIDS Sedunia diperingati pada Selasa (1/12/2020). Dikutip dari UNAIDS, tema peringatan Hari AIDS sedunia tahun ini adalah Global Solidarity, Shared Responsibility atau Solidaritas Global, Tanggung Jawab Bersama. Tema tersebut diusung untuk menggugah kesadaran semua pihak, bahwa sampai saat ini masih ada 12 juta orang penderita HIV di seluruh dunia yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Selain itu, setiap pekan, ada sekitar 5.500 perempuan muda berusia 15-24 tahun di seluruh dunia yang terinfeksi HIV. Baca juga: Hari Aids Sedunia, Sudah Tahu Makna Pita Merah? Hak atas kesehatan untuk semua manusia UNAIDS adalah institusi global yang didirikan dengan tujuan untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Target tersebut merupakan bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati oleh negara-negara anggota PBB. Sejak mulai beroperasi pada 1996, UNAIDS telah memimpin dan memulai inisiatif di tingkat global, nasional, dan regional untuk mengakhiri HIV/AIDS. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 2020, Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima mengatakan, sampai hari ini, lebih dari 12 juta orang di seluruh dunia masih menunggu untuk mendapatkan pengobatan HIV. Selain itu, 1,7 juta orang terinfeksi HIV pada 2019 karena tidak dapat mengakses layanan kesehatan esensial. adalah AIDS adalah hari aids sedunia 2020 hari aids sedunia 1 desember apa itu hiv aids hari aids 2020

"Menjelang akhir tahun 2020, dunia berada dalam kondisi berbahaya, dan bulan-bulan mendatang tidak akan mudah," kata Byanyima. "Hanya solidaritas global dan tanggung jawab bersama yang akan membantu kita mengalahkan virus corona, mengakhiri epidemi AIDS, dan menjamin hak atas kesehatan untuk semua manusia," imbuhnya. Baca juga: Gejala dan Fase Penularan HIV/AIDS Sejarah virus HIV/AIDS Dilansir dari DW, 30 November 2020,  HIV adalah virus yang menyerang sel dalam tubuh yang bertugas melawan infeksi. Orang yang terinfeksi HIV menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lain, dan jika tidak diobati dapat menyebabkan penyakit AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yang sangat mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, tanpa pengobatan, orang dengan penyakit AIDS biasanya hanya mampu bertahan hidup selama sekitar tiga tahun. Asal-mula kemunculan virus ini masih belum jelas, tetapi pertama kali diidentifikasi di Amerika Serikat pada 1981 di antara pria gay. Karena virus menyebar melalui pertukaran cairan tubuh, pria gay yang melakukan seks anal dan oral tanpa kondom memiliki risiko tinggi untuk tertular virus. Namun tidak hanya gay, orang-orang dari jenis kelamin, usia, atau orientasi seksual apa pun dapat juga terinfeksi virus ini. Di banyak wilayah di dunia, wanita muda dengan orientasi heteroseksual, secara statistik, memiliki kemungkinan besar untuk tertular HIV. Tingkat infeksi yang tinggi juga berhubungan erat dengan pengguna narkoba dan pekerja seks. Sejak pertama kali teridentifikasi, HIV dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan menjadi salah satu epidemi terburuk dalam sejarah umat manusia. 

HIV/AIDS di Indonesia Dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, 7 Maret 2020, Ketua Panli HIV AIDS PIMS, Samsuridjal Djauzi mengatakan, kasus HIV pertama di Indonesia teridentifikasi pada 1986. Pada tahun itu, ada laporan kasus seorang perempuan Indonesia di sebuah rumah sakit yang menderita HIV. Kemudian pada 1987 di Bali, terdapat seorang wisatawan asal Belanda yang meninggal karena HIV. “Dari situlah mulai kasus meningkat, dan biasanya adalah pasien datang dalam keadaan sakit berat, sudah dalam infeksi oportunistik entah itu TBC, infeksi otak, entah penyakit lain, kemudian diperiksa HIV dan diketahui positif,” kata Djauzi. Untuk memutus mata rantai penularan HIV, pemerintah telah mencanangkan Three Zero yang ditargetkan tercapai pada 2030. Dengan cara, antara lain tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pada 2017, pemerintah telah mencanangkan strategi Fast Track 90-90-90 yang meliputi beberapa langkah, yaitu: 90 persen orang mengetahui status HIV melalui tes atau deteksi dini 90 persen dari ODHA yang mengetahui status HIV memulai terapi ARV 90 persen ODHA dalam terapi ARV (antiretroviral) berhasil menekan jumlah virusnya


Disadur Kompas.com l "Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2020: Tema dan Sejarahnya",

 

 

Peringatan hari dasbilitas

Komunitas Wadah Himpunan Harapan Indonesiaku Bercahaya atau Wahiha Inakucha memperingati Hari Disabilitas Internasional atau HDI 2020 dengan membagikan stiker dan pamflet kepada masyarakat. Mereka mengingatkan lagi agar masyarakat peduli terhadap insan berkebutuhan khusus. Inisiator Wahiha Inakucha, Maria Isabella mengatakan, Hari Disabilitas Internasional atau HDI 2020 yang diperingati setiap 3 Desember menjadi momentum untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap difabel yang masih kerap mengalami diskriminasi. "Sesuai dengan tema HDI 2020 'Not All Disabilities Are Visible', kami mengajak seluruh masyarakat lebih peka terhadap insan berkebutuhan khusus,"

Maria mengatakan banyak potensi insan berkebutuhan khusus yang belum dimaksimalkan di dunia usaha maupu organisasi. Menurut dia, banyak perusahaan yang sangat selektif memilih orang untuk menjadi karyawan, apalagi dengan keterbatasan mental dan fisik.

Komunitas Wahiha Inakucha membagikan stiker dan pamflet saat memperingati Hari Disabilitas Internasional atau HDI 2020 di Depok pada Kamis, 3 Desember 2020. TEMPO | Ade Ridwan

"Kenyataannya, banyak insan berkebutuhan khusus yang ketika berusia dewasa, tidak lagi mendapatkan dukungan dari lembaga pendidikan dan belum mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah," kata Maria. Padahal, kata Maria, Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengatur tentang kesamaan hak dan kesempatan bagi difabel menuju kehidupan yang lebih baik, mandiri, dan sejahtera tanpa diskriminasi.Maria menjelaskan organisasinya fokus terhadap insan berkebutuhan khusus dewasa agar terlibat dan diterima masyarakat. Visi Wahiha Inakucha adalah menjadi ruang amanah berdaya dan berkarya kompetitif bagi penyandang disabilitas, serta terwujudnya lingkungan yang berkeadilan di masyarakat. "Terus dukung kami dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang terlupakan supaya lebih mandiri dan berguna," kata Maria.

Disadur Tempo .co

Hari Relawan Internasional pada 5 Desember

 

Setiap 5 Desember, dunia memperingati Hari Relawan Internasional, atau International Volunteer Day. Hari Relawan Internasional pada 5 Desember ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1985.Hari peringatan ini adalah sebuah kesempatan bagi relawan, dan organisasi relawan, untuk meningkatkan kesadaran, dan mendapatkan pemahaman atas kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat.

Hari Relawan Internasional ini juga dipandang sebagai kesempatan bagi para sukarelawan dan organisasi untuk merayakan upaya mereka, untuk berbagi nilai-nilai mereka, dan untuk mempromosikan kegiatan mereka di antara komunitas mereka, organisasi non-pemerintah (NGO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, otoritas pemerintah dan sektor swasta.

Sejarah Hari Relawan Internasional

Dilansir dari futuready.com, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendirikan Relawan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Volunteers (UNV) sejak tahun 1971. Hingga saat ini, PBB mengadvokasi peran relawan dalam pembangunan, serta diikutsertakan dalam proyek kemanusiaan maupun dalam penjaga perdamaian.

Hari Relawan Internasional atau International Volunteer Day diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 17 Desember 1985 melalui resolusi A/RES/40/212. PBB mengundang pemerintah dalam perayaan 5 Desember sebagai Hari Relawan Internasional untuk pembangunan ekonomi dan sosial, serta mendesak agar mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran akan kontribusi penting dari pelayanan sukarela.

Manfaat menjadi Relawan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sukarelawan adalah orang yang melakukan kegiatan kemanusiaan, dalam bentuk tenaga, pikiran, waktu, uang dan sebagainya, dengan kehendak diri sendiri tanpa adanya paksaan. Ini berarti bahwa siapapun yang terlibat dalam kegiatan sosial untuk menolong atau membantu orang lain melalui pikiran, waktu, uang dan tenaganya, dengan maksud untuk membuat lingkungan yang lebih positif dapat disebut sebagai seorang relawan.Menjadi seorang relawan tidak hanya memberikan manfaat pada orang lain. Anda pun juga akan merasakan efek positif ketika berperan sebagai sukarelawan dalam membantu menjadikan lingkungan lebih baik.

Dalam rangka memperingati Hari Relawan Internasional, berikut akan kami sampaikan beberapa manfaat menjadi relawan, yang telah dirangkum dari thebalancesmb.com.

1.      Membangun Komunitas

2.      Meningkatkan Sosialisasi

  1. Bangun Ikatan dan Ciptakan Teman
  2. Mengembangkan Stabilitas Emosional
  3. Menambah Pengalaman
  4. Memberikan Prospek Kerja yang Lebih Baik

Disadur “Merdeka.com”

Hari Hak Asazi Manusia ( HAM)

KOMPAS.com - Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional diperingati setiap 10 Desember. Melansir laman United Nations, tahun ini, tema yang diangkat adalah Youth Standing Up for Human Rights atau Pemuda Membela Hak Asasi Manusia. Dengan tema tersebut, peringatan HAM tahun ini salah satunya bertujuan untuk merayakan potensi pemuda sebagai agen perubahan konstruktif, menguatkan suara pemuda, dan melibatkan mereka dalam jangkauan yang lebih luas untuk mempromosikan perlindungan atas hak- hak asasi manusia. Kampanye ini dipimpin oleh Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) dan didesain untuk mendorong serta menunjukkan bagaimana kaum muda di seluruh dunia membela hak-hak dalam melawan rasisme, ujaran kebencian, perundungan, diskriminasi, dan perubahan cuaca. Pemuda dipilih sebagai tokoh utama dalam peringatan tahun ini karena alasan-alasan berikut: Partisipasi pemuda sangat penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan untuk semua Pemuda memainkan peranan penting dalam perubahan yang positif Memberdayakan pemuda untuk mengenal lebih dan mengklaim hak-hak mereka dan menghasilkan manfaat secara global Baca juga: Mengenang HS Dillon, dari Pejuang HAM hingga Turban Khasnya yang Ikonik Sejarah Hari HAM Hari HAM dirayakan oleh masyarakat internasional setiap tahunnya pada tanggal 10 Desember. Peringatan ini adalah untuk mengenang hari diadopsinya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948. Dokumen deklarasi ini terdiri atas bagian Pembukaan dan 30 Pasal yang mengatur tentang Hak Asasi Manusia. Melansir laman OHCHR, peringatan ini secara resmi dimulai dari tahun 1950, setelah Majelis Umum meloloskan resolusi 423 dan mengundang seluruh negara ataupun organisasi yang tertarik untuk mengadopsi 10 Desember sebagai Hari HAM tiap tahunnya. Ketika Majelis Umum mengadopsi dekrarasi ini, 48 negara mendukung dan 8 negara abstain. Deklarasi ini kemudian dinyatakan sebagai standar umum pencapaian bagi semua bangsa. Setiap individu dan masyarakat harus berjuang dengan langkah-langkah progresif, nasional, dan internasional, untuk memperoleh pengakuan dan ketaatan yang universal dan efektif. Meskipun Deklarasi ini tidak mengikat, dokumen ini mengilhami lebih dari 60 instrumen Hak Asasi Manusia membentuk standar HAM internasional. Hari ini, persetujuan umum dari semua Negara Anggota PBB tentang Hak Asasi Manusia yang tercantum dalam Deklarasi membuatnya semakin kuat. Dokumen ini pun menekankan relevansi Hak Asasi Manusia dalam kehidupan kita sehari-hari. Hingga kini, dokumen deklarasi HAM telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 500 bahasa. Setelah 71 tahun dokumen ini diadopsi, Deklarasi HAM masih menjadi dasar ketika menemukan hal ataupun tantangan baru dalam pemenuhan hak-hak asasi manus  Baca juga: Sepak Terjang Yasonna Laoly, dari Politisi, Menkumham hingga Guru Besar Kriminologi

Disaduri Kompas.com  "Diperingati Tiap 10 Desember, Ini Sejarah Hari HAM Internasional.

Hari Ibu 22 Desember di Indonesia

Sejarah Mother's Day atau Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember hari ini.  Sejarah Mother's Day atau Hari Ibu 22 Desember di Indonesia dimulai sejak pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dihelat tanggal 22-25 Desember 1928, atau hanya beberapa pekan setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu mengacu pada kongres tersebut. Dikutip dari buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama (1991) yang ditulis Suratmin dan Sri Sutjiatiningsih, kongres tersebut dilangsungkan di Yogyakarta, tepatnya di Ndalem Joyodipuran. Sekarang, gedung itu digunakan sebagai Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda itu diikuti oleh tidak kurang dari 600 perempuan dari puluhan perhimpunan wanita yang terlibat. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang suku, agama, pekerjaan, juga usia. Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama (2007) mencatat, sejumlah organisasi perempuan yang terlibat antara lain Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa, juga sayap perempuan dari berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain. Selain itu, para perwakilan dari perhimpunan pergerakan, partai politik, maupun organisasi pemuda juga datang ke Kongres Perempuan Indonesia perdana ini, termasuk wakil dari Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia (PNI), Jong Java, Jong Madoera, Jong Islamieten Bond, dan seterusnya. Panitia Kongres Perempuan Indonesia I dipimpin oleh R.A. Soekonto yang didampingi oleh dua wakil, yaitu Nyi Hadjar Dewantara dan Soejatin. Dalam sambutannya, dinukil dari buku karya Blackburn, R.A. Soekonto mengatakan: “Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.” “Artinya,” lanjut R.A. Soekonto, “perempuan tidak [lantas] menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki, jangan sampai direndahkan seperti zaman dahulu.” Selain diisi dengan pidato atau orasi tentang kesetaraan atau emansipasi wanita oleh para tokoh perempuan yang terlibat, kongres ini juga menghasilkan keputusan untuk membentuk gabungan organisasi wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), memaparkan dua tahun setelah kongres pertama itu, kaum perempuan di Indonesia itu menyatakan gerakan wanita adalah bagian dari pergerakan nasional. Dengan kata lain, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa. Tanggal hari pertama Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 inilah yang kemudian menjadi acuan bagi pemerintah RI untuk menetapkan peringatan Hari Ibu, yang diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953. Mother's Day atau Hari Ibu di Negara Lain Selain Indonesia, negar-negara lain di dunia juga memperingati Hari Ibu. Dikutip dari The Telegraph, Hari Ibu di Amerika Serikat (AS) jatuh pada minggu kedua bulan Mei serta telah ditetapkan sebagai hari libur tahunan. Sama seperti di Indonesia, Hari Ibu di AS untuk memperingati peran seorang ibu yang mereka berikan kepada masyarakat dalam membesarkan anak. Di Inggris, Hari Ibu dikenal sebagai Mothering Sunday, dan selalu jatuh pada hari Minggu keempat Prapaskah - biasanya pada akhir Maret atau awal April. Perayaan Hari Ibu di Inggris dilakukan dengan tradisi seorang anak akan memberikan bunga, kartu ucapan, hadiah, bukan hanya kepada ibu kandung mereka, tetapi kepada nenek, ibu tiri, bahkan ibu mertua. Pada awal abad ke-20 para keluarga di sana akan berkumpul di gereja, namun akhirnya perayaan ini hanya dilakukan di rumah dengan memberikan hadiah kepada ibu mereka. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Australia punya tradisi untuk mengenakan bunga anyelir berwarna putih untuk mengenang dan menghormati seorang ibu yang telah meninggal. Sementara itu, di keluarga Afrika Selatan memanfaatkan hari tersebut untuk berterima kasih bukan hanya ibu tapi juga nenek dan wanita yang sudah mereka anggap seperti ibu. Hari Ibu di Rusia dirayakan pada minggu terakhir bulan November dan telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 1998 Perayaan ini dilakukan untuk memperingati peran orang (ibu) yang paling penting dalam kehidupan setiap orang.

Disadur "Sejarah Hari Ibu 22 Desember Bermula dari Kongres di Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar