Selasa, 31 Agustus 2021
Peringatan
Peringatan
bulan September
1.
1 September Hari
jantung
2.
1 September Hari Polisi Wanita ( POLWAN)
3.
3 September Hari Palang Merah Indonesia ( PMI )
4.
4 September Hari Kesehatan Seksual
5.
4 September Hari Pelanggan Nasional
6.
8 September Hari Aksara
7.
8 September Hari Pamong praja
8.
9 September Hari Olah raga Nasional
9.
11 September Hari Radio Republik Indonesia
10 14 September Hari kunjungan Perpustakaan
11 15 September Hari Demokrasi
12 16 September Hari Ozon
13 17 September Hari
Perhubungan Nasional
14 17 September Hari Palang Merah Nasional
15 21 September Hari perdamaian internasional
16 24 September Hari Hari Agraria
17 26 September Hari Statistik
18 27 September Hari POS Telekomunikasi Telegrap
19 28 September Hari Kereta api
20 29 September Hari Sarjana Nasional
21 30 September Hari pemberontakan G 30 S PKI
Moment
Mengenang peristiwa G 30 S
PKI
Peristiwa Gerakan 30 September/PKI atau
G30S/PKI menjadi salah satu tragedi kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada
30 September 1965 malam hingga pagi keesokannya, sebanyak tujuh orang perwira
TNI dibunuh secara keji. Mereka dituduh akan melakukan makar terhadap
Presiden Pertama RI Soekarno melalui Dewan Jenderal. Jenazah ketujuh pahlawan
revolusi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur di kawasan Lubang
Buaya, Jakarta Timur. Ketujuh perwira tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jenderal Ahmad Yani Ahmad
Yani adalah satu di antara 6 jenderal yang terbunuh pelatuk senapan PKI pada 1
Oktober 1965 dini hari di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat. Lahir pada 19
Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah, Ahmad Yani tutup usia di umur 43 tahun.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email
Diberitakan Harian Kompas, 14 Agustus 2017, pemandu Museum Jenderal Ahmad Yani,
Sersan Mayor Wawan Sutrisno, mengungkapkan pasukan yang datang menyergap
masuk melalui pintu belakang dan membunuh Sang Jenderal saat itu juga.
Semetara, yang lain ada yang bertugas menyekap pasukan penjaga rumah Ahmad
Yani, ada juga yang bertugas mengepung rumah itu. Baca juga: Museum AH
Nasution, Saksi Bisu Kisah Tragis G30S/PKI
2. Mayjen R Soeprapto
Berdasarkan informasi dari laman Sejarah TNI, pada 30 September 1965, Soeprapto
baru saja melakukan pencabutan gigi sehingga pada malam harinya merasa tidak
nyaman dan tidak bisa tertidur. Di saat itu, Suprapto menyelesaikan lukisan
yang niatnya akan diserahkan kepada Museum Perjuangan di Yogyakarta. Sekitar
pukul 04.30 pagi di keesokan harinya, rombongan penculik menghampiri rumahnya.
Anjing menggonggong, Soeprapto pun bertanya siapa yang ada di luar. Rombongan
di luar menjawab "Cakrabirawa", mengetahui hal itu tanpa rasa curiga
apa pun Suprapto yang masih dalam keadaan mengenakan piyama dan
sarung keluar menemui mereka. Pasukan itu mengatakan Suprapto diminta
menemui Soekarno saat itu juga. Sebagai prajurit yang patuh pada pimpinan
tertingginya, Suprapto mengiyakan. Namun, ia meminta izin untuk terlebih dulu
berganti pakaian. Permintaannya tidak diizinkan, dan justru langsung menodong
Suprapto dengan senjata dan sebagian memegang tangannya, sembari membawanya ke
luar untuk dinaikkan ke atas truk yang sudah menunggu. Rupanya, Jenderal asal
Purwokerto, Jawa Tengah, ini dibawa ke Lubang Buaya. Di sana, ia dianiaya dalam
keadaan tubuh terikat. Selanjutnya, jenazahnya dilemparkan begitu saja ke dalam
lubang sumur yang sempit, yang juga menjadi lokasi pembuangan jasad korban
penculikan yang lain. Baca juga: Latar Belakang Pemberontakan PKI di Madiun
3. Mayjen MT Haryono Dari
arsip Harian Kompas, 23 November 1965, mayat M.T. Haryono ditemukan di sumur
Lubang Buaya, nomor dua dari bawah, di atas jenazah D.I Panjaitan. Sebelumnya,
M.T Haryono yang dikenal sebagai penyayang anak ini diberondong peluru di
kediamannya, saat mencoba melawan rombongan yang datang dan menculiknya.
Sayangnya, jumlah lawan terlalu besar, banyak peluru yang akhirnya bersarang di
tubuh Haryono. Ia pun ambrug dan diseret naik ke atas truk rombongan penculik.
Diduga, ketika itu Haryono sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Istrinya yang
mengetahui kejadian ini segera mengunci anak-anaknya dalam kamar dan
mengemudikan mobil sendiri ke kediaman Ahhmad Yani, dengan maksud melaporkan
apa yang terjadi. Namun, di kediaman Ahmad Yani rupanya terlihat terjadi hal
serupa. Tidak kehabisan akal, istri Haryono langsung balik arah ke kediaman S.
Parman, namun sayang keadaan yang sama kembali ia temukan. Baca juga: Museum
Ahmad Yani, Saksi Bisu Perjalanan Sang Jenderal Korban G30S/PKI
4. Mayjen S. Parman S.
Parman disergap pada 1 Oktober 1965 sekira pukul 04.00 WIB. Berdasarkan arsip
Harian Kompas, 23 Oktober 1965, perwira yang pernah berjuang di peristiwa
Madiun, APRA, D.I. Jawa Barat dan Jawa Tengah ini tidak menyadari kedatangan
rombongan penculik, karena menggunakan seragam Cakrabirawa. Rombongan itu
mengatakan suasana di luar genting, bahkan mereka ikut masuk ke kamar tidur
saat Parman berganti pakaian. Laki-laki bernama lengkap Siswondo Parman ini pun
dibawa pergi. Saat itu, rumahnya tidak ada yang menjaga, hanya ada istri dan
anaknya di sana. Penculikan itu berjalan dengan lancar. Baca juga: Lettu Pierre
Tendean yang Jadi Korban Peristiwa G30S/PKI
5. Brigjend D.I. Panjaitan
D.I. Panjaitan diculik pada 1 Oktober 1965 waktu subuh. Pasukan berseragam yang
datang dengan menggunakan dua buah truk langsung mengepung rumah Panjaitan dari
segala penjuru arah. Tapi, ia mengira pasukan itu ditugasi untuk menjemput
dirinya agar bertemu dengan Soekarno. Panjaitan pun berpakaian rapi, resmi,
lengkap dengan topi, layaknya akan pergi ke satu upacara. Namun tanpa diduga,
pasukan itu justru menembaki barang-barang yang ada di rumahnya hingga hancur
berserakan. Melihat kondisi seperti itu, Panjaitan yang merupakan seorang umat
beragama yang taat menolak untuk menggunakan kekuatan para penjaga di rumahnya,
meskipun sudah beberapa kali diperingatkan. Ia percaya hanya Tuhan yang akan
melindungi dirinya. Akhirnya, ia turun dari kamarnya di lantai 2 dan menemui
rombongan itu. Jenderal asal Tapanuli itu sempat melawan, sehingga ia ditembak
di halaman rumahnya seketika itu juga, dan langsung dibawa pergi. Baca juga:
Menhan Prabowo Minta Pemberontakan PKI Diajarkan di Sekolah
6. Brigjen Sutoyo
Siswodiharjo Merujuk arsip Harian Kompas, 19 November 1965, penculikan
Sutoyo terjadi pada 1 Oktober 1965 pagi. Rombongan datang ke rumah Sutoyo dan
mengamankan lokasi di sekitar jalan rumahnya, orang dilarang melintas dan
hansip yang berjaga dibuat tidak berdaya. Pasukan yang masuk ke dalam rumah pun
memaksa pembantu yang ada di sana untuk memberikan kunci agar bisa menemukan
sasaran operasi, Sutoyo. Sutoyo dipanggil dan disebut diminta untuk menemui
Soekarno di Istana Kepresidenan. Setelah memenuhi panggilan itu, Sutoyo pun
diajak untuk naik ke truk, kendaraan yang digunakan rombongan penculik. Saat di
atas truk itu, Sutoyo diikat tangannya dan ditutup matanya. Lalu, ia diturunkan
di sebuah rumah dekat Lubang Buaya. Pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, suara
tembakan beberapa kali terdengar. Dan jenazah dari Sutoyo pun dimasukkan ke
sumur dengan ditutup menggunakan sampah dan daun-daun. Baca juga: Tolak Bahas
RUU HIP, Jokowi Tegaskan PKI Dilarang
7. Lettu Pierre Andreas
Tendean Sesungguhnya, Harian Kompas pada 9 Oktober 1965
menuliskan, laki-laki keturunan Perancis ini bukan sasaran para penculik.
Namun Tendean saat 1 Oktober 1965 pagi tengah berada di rumah Jenderal A.H.
Nasution, atasannya, yang merupakan target sesungguhnya. Saat rombongan itu
datang dan bertanya kepada Tendean, apakah dia adalah A.H. Nasution, tanpa ragu
Tendean menjawab, "Ya, saya lah Jenderal Nasution", meski ia tahu apa
risikonya. Tindakan itu ia lakukan agar sang Jenderal bisa selamat. Dan benar,
A.H. Nasution memang lolos dari penculikan. Padahal, Tendean sebenarnya bisa
saja mengatakan yang sejujurnya dan terbebas dari kekejaman yang pada ujungnya
menjadi akhir hidupnya. Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Ini 3 Tempat Mengenang
Kejadian G30S/PKI Dikutip dari Harian Kompas, 5 Oktober 1965, jenazah ketujuh
perwira tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta,
bertepatan dengan HUT ke-20 ABRI. Namun, sebenarnya masih ada 3 orang lain yang
juga turut dibunuh pada rentetan peristiwa G30S/PKI itu. Namun, jasad mereka
tidak turut dibuang dalam sumur yang sama dengan ketujuh jasad perwira TNI
tersebut. Ketiganya adalah Aipda K.S. Tubun, Brigjen Katamso, dan Kolonel
Sugiono. Semuanya, baik yang jasadnya dibuang di Lubang Buaya atau tidak,
dianugerahi gelar sebagai pahlwan revolusi untuk menghormati jasa dan
pengorbanannya.
Minggu, 01 Agustus 2021
Sajian Utama
Hari Pramuka
Sejarah awal mula Hari Pramuka ditetapkan pada
14 Agustus bersamaan dengan dianugerahkannya Panji Gerakan Pramuka. Panji ini
ditetapkan oleh presiden lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448
Tahun 1961. Sejarah Pramuka di Indonesia, Organisasi Sejak Zaman Belanda. Sejarah
Gerakan Pramuka di Indonesia Sejarah
Pramuka di Indonesia (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono) Ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda,
organisasi kepanduan berkembang dengan pesat. Saat itu namanya masih Nederland
Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau persatuan Pandu-pandu Hindia
Belanda Organisasi ini dianggap bisa membantu dan membangun karakter seseorang.
Berbagai organisasi kepanduan di daerah pun bergabung, hingga pada tahun 1930
terbentuklah Pandu Pemuda Sumatera, satu tahun kemudian tepatnya 1931 Persatuan
Antar Pandu Indonesia terbentuk
Meski dibentuk di masa penjajahan Belanda,
organisasi ini dianggap bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Setelah masa
kemerdekaan, 28 Desember 1945 organisasi Pandu Rakyat Indonesia didirikan di
Kota Solo, Jawa Tengah.Tokoh yang terkenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia
adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dia menjabat sebagai ketua Kwartir
Nasional (Kwarnas) pertama sejak Pramuka resmi dibentuk Nama 'Pramuka' tercetus dari pemikiran Sultan
dari istilah 'poromuko' yang berarti pasukan yang berdiri paling depan dalam
peperangan. Akhirnya gerakan panduan pun makin berkembang, ada sekitar 100
organisasi kepaduan terbentuk pada tahun 1960
Hingga akhirnya, organisasi ini dikenalkan
secara resmi sebagai Gerakan Pramuka pada masyarakat Indonesia pada 14 Agustus
1961 Dikutip dari laman resmi Pramuka, tunas kelapa muda dipilih sebagai
lambang resmi Pramuka pada 20 Mei 1961. Lambang ini dipilih karena memiliki
arti kiasan bahwa tunas penerus bangsa yang kuat dan ulet serta memilik
cita-cita yang tinggi. Jambore nasional Indonesia pertama kali diadakan di Situ
Baru, Jakarta pada 1972
Awalnya gerakan ini dia buat untuk membina
kaum muda Inggris yang terlibat tindakan kekerasan dan kriminal. Powell
mengajak 21 orang berkemah di Pulau Brownsea selama delapan hari.Kegiatan
perkemahan ini memberikan efek baik, Powell pun mengabadikannya melalui buku
yang ia tulis berjudul Scouting for Boy Powell
kecil mendapatkan pengalaman scouting bersama kakaknya. Ia mendapatkan latihan
berupa berenang, berlayar, olahraga sampai berkemah Dari latihan yang ia dapat
saat muda, membuat dirinya bisa bergabung dalam militer Inggris. Buku yang
Powell tulis memberikan banyak inspirasi untuk mendirikan gerakan kepanduan di
seluruh dunia. Tahun 1918, dia mendirikan organisasi yang disebut Rover Scout
yang beranggotakan remaja. Antusiasme pada buku dan gerakan kepanduan yang
dibentuknya ini dikukuhkan dengan diadakannya jambore dunia untuk pertama
kalinya di London pada 30 Juli - 8 Agustus 1920 yang dihadiri 8.000 anggota
dari 34 negara. Begitulah sejarah singkat terbentuknya gerakan Pramuka di
Indonesia dan dunia. Selamat Hari Pramuka.
Hari kemerdekaan
Kemerdekaan
RI Tahun 2021 Presiden Jokowi Pimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi
Peringatan dalam rangka Hari Ulang Tahun
ke-76 Kemerdekaan RI kali ini mengusung tema “Indonesia Tangguh, Indonesia
Tumbuh”.
Presiden Joko Widodo menjadi inspektur upacara dalam Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 17 Agustus 2021
Presiden Joko Widodo memimpin upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Istana Merdeka, pada
Selasa, 17 Agustus 2021. Kepala Negara hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko
Widodo dan didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin beserta Ibu Wury Ma’ruf
Amin.Peringatan dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan RI kali ini
mengusung tema “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. Tema ini mendeskripskan
nilai-nilai ketangguhan, semangat pantang menyerah untuk terus maju bersama
dalam menempuh jalan penuh tantangan agar dapat mencapai masa depan yang lebih
baik.Bertindak selaku komandan upacara pada kesempatan kali ini yaitu Kolonel
Pnb. Putu Sucahyadi, S.AP., M.Sc., M.M.S. Pria kelahiran Denpasar, 9 Oktober
1977, ini merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1999 yang saat ini
menjabat sebagai Asops Kosekhanudnas II Makassar.
Selepas itu, Presiden Joko Widodo selaku inspektur
upacara memimpin para peserta upacara baik yang hadir secara terbatas di lokasi
maupun yang mengikuti secara virtual untuk mengheningkan cipta. Menteri Agama,
Yaqut Cholil Qoumas, kemudian memandu pembacaan doa.Ardelia Muthia Zahwa,
anggota Paskibraka asal Provinsi Sumatera Utara selanjutnya membawa bendera
Merah Putih untuk kemudian dikibarkan. Adapun Paskibraka lainnya yang bertugas
mengibarkan bendera yakni Dika Ambiya Rahman sebagai pembentang bendera, Ridho
Hadfizar Armadhani sebagai pengerek bendera, dan Aditya Yogi Susanto sebagai
Komandan Kelompok 8.
Pengibaran bendera Merah Putih dengan diiringi lagu
kebangsaan Indonesia Raya pun berhasil ditunaikan dengan baik oleh para Paskibraka.
Sang Merah Putih tampak gagah berkibar di halaman Istana Merdeka. Aksi para
prajurit TNI AU yang melakukan fly pass pesawat tempur turut
memeriahkan upacara kali ini. Sesaat sebelum melintas di langit Istana Merdeka,
salah satu pilot pesawat tempur tersebut memberikan ucapan selamat HUT ke-76
Kemerdekaan RI.
Setelahnya, masyarakat dan para undangan disuguhi
persembahan lagu “Syukur” dan “Maju Tak Gentar” oleh Gita Bahana Nusantara yang
ditayangkan secara virtual. Ada yang sedikit berbeda pada upacara kali ini,
yakni adanya fly pass helikopter yang membawa bendera Merah
Putih ukuran raksasa. Enam helikopter yang membawa dua bendera berukuran 20
meter kali 30 meter melintas dari arah kiri podium dan disambut tepuk tangan
para hadirin.
Sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara dan menteri
hadir secara langsung dalam upacara peringatan tersebut, yakni Ketua MPR
Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua DPD La Nyalla Mattalitti, Ketua
BPK Agung Firman Sampurna, Ketua MA Muhammad Syarifuddin, Ketua MK
Anwar Usman, Ketua KY Mukti Fajar Nur Dewata, Menteri Agama Yaqut Cholil
Qoumas, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Pol. Listyo
Sigit Prabowo.Sementara itu, para Presiden dan Wakil Presiden Republik
Indonesia terdahulu mengikuti jalannya upacara secara virtual dari kediaman
masing-masing.
Peringatan
Peringatan Hari besar Agustus
- 1
Agustus Hari ASI Sedunia
- 5
Agustus Hari
Dharmawanita
- 8
Agustus Hari
ulang tahun Asean
- 9
Agustus Hari
Masyarakat Adat Internasional
- 10
Agustus Hari
kebangkitan Teknologi Indonesia
- 10 Agustus Hari Veteran
- 12
Agustus Hari
Remaja Internasional
- 14
Agustus Hari
PRAMUKA
- 17
Agustus Hari
kemerdekaan Indonesia
- 18
Agustus Hari
Konstitusi Indonesia
- 19
Agustus Hari
Departemen Luar Negri
- 21
Agustus Hari
Maritim Nasional
- 23
Agustus Hari
mengenanga pengahapusan budak ( UNESCO)
- 24
Agustus Hari
televisi Repoblik Indonesia
Ekspresi
Puisi
KUSAMBUT PAGIKU DENGAN CERIA
Kubuka lembaran pagiku
Dengan semangat empatlima
Pantang menyerah meski
kondisi masih begini
tetap berkarya wujud pengabdian Negara
***
Anak didikku adalah harapan
masa depan
Yang dititipi amanah negeri
Agar terus berjuang wujudkan
impian
Dari pendiri bangsa yang telah
berkorban jiwa-raga
Tataplah jauh ke angkasa
Gerakkan tangan , kaki, serta
putarlah otak
Raih kejayaan dan usir segala
kemalasan
***
Itulah tugasku yang utama
Ciptakan motivasi yang ada di
diri siswa
Enyahkan selimut penghangat
bandan
Simpan dan lenyapkan dari
pandangan
Bergegas buka buku,belajar
manfaatkan waktu
Mumpung hari masih pagi
Pikiran bersih siap menanti
Wujudkan cita-cita yang lama
sudah terpatri
***
Masa pandemi bukan penghalang mencari rezeki
Bukan pula penghalang menggali informasi
Semua tersebar seantero dunia
Bebas memilih mana yang disuka
Dengan cara yang berbeda-beda
Yang penting jangan berpangku
tangan
Terus berjuang wujudkan
kemakmuran.
Oleh : Dwi Putri MS
-
Puisi BUNDA Kesibukan bunda tak ada habisnya Dari pagi hingga malam menjelang masih saja bekerja Menata rumah tangga agar i...
-
Sajian utama Hari Buku Anak Sedunia Nah, bagi kalian yang belum tahu, kegiatan membaca buku pun ada perayaannya loh. Setiap tangg...
