Idhul Qurban
Hikmah dari Sejarah dan Prosesi Idul Adha
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
ألله أكبر كبيراً والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرةً وأصيلا لا إله إلا الله
والله أكبر، الله أكبر ولله الحمدُ
الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، الحمدُ لله الذي بِنِعْمِتِهِ تَتِمُّ الصالحاتِ،
وبعَفوِه تُغفَرُ الذُّنُوْبَ والسيِّئاتِ، وبكرَمِهِ تُقبَلُ العَطايا
والقُربَات، وبلُطفِه تُسْتَرُ العُيُوبَ والزَّلاَّتِ، الحمدُ لله الذي أماتَ
وأحيا، ومَنَعَ وأعطَى، وأرشَدَ وهَدَى، وأضْحَكَ وأبْكَى؛ الحمدُ لله الذي جعَل
الأَعْياَدَ في الإسلام مَصدرًا للهِّناءِ والسُّرُوْرِ، الحمد لله الذي تَفَضَّلَ
في هذه الأيَّام العَشْرِ على كلِّ عبدٍ شَكُور، سبحانه غافِرِ الذَنْبِ وقابِل
التَّوبِ شَدِيْدِ العِقاب.
أشهد أن لاإله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أنّ سيّدنا محمدا عبده ورسوله
خاتمَ النّبيّين رَحْمَةً للـمؤمنين وحجّة للجاهدين. اللهمّ صليّ على سيّدنا محمد
صلى الله عليه فى الأوّلين والآخرين وعلى آله والطّيّبين الطّاهرين وسلّم تسليمًا
كثيرا.
أمّا بعد، ايّها النّاس أوصيكم ونفسي بتقوى الله وكونوا مع الصّادقين
والـمخلصين. إعلموا أنّ هذا اليوم يوم عظيم لقد سرّفه الله بالتّضحيّة لقوله
تعالى: إنّا أعطيناك الكوثر، فصلّ لربّك وانحــر، إنّ شانئك هو الأبتر.
Hari Raya Idul Adha adalah salah satu dari dua hari raya milik umat Islam.
Kedua hari tersebut dirayakan dengan saling memberi dan menghidangkan makanan;
sehingga berpuasa pada waktu itu dilarang secara syar'i. Ada kegembiraan umat
Islam di sana. Ada pula gerakan berdimensi ekonomi-sosial; zakat dan kurban.
Ada silaturahim yang khusyu' dan haru.
Kedua hari raya tersebut, dirayakan dalam bentuk ibadah yang komprehensif:
individual-sosial, mikro-makro, tidak ada dikotomi perbedaan kaya-miskin,
tua-muda, berpangkat maupun tanpa pangkat, berilmu maupun awam; kesemuanya
sholat dalam satu tempat yang sama. Mendengarkan pesan-pesan agung dari Allah
dan Rasul-Nya yang disampaikan oleh khatib. Merenungkan hikmah ilahiyah dalam
setiap prosesi ibadah, tenggelam dalam takbir, tahmid dan tahlil serta beragam
pujian kepada sang Khalik.
عن أنس قال: "قدم رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- المدينة، ولهم
يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية،
فقال رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم-: إن اللَّه عز وجل قد أبدلكم بهما خيرًا
منهما، يومَ الأضحى، ويوم الفطر[2]
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Umur ibadah kurban adalah setua sejarah manusia itu sendiri. Berkurban
sejatinya merupakan fitrah manusia yang bersumber dari perintah Allah; dan
tidak boleh didasari hawa nafsu. Qabil dan Habil diperintah berkurban. Ada
kurban yang diterima, ada pula tidak. Kurban yang diterima pastilah kurban yang
baik, berkualitas, dan ikhlas. Sebagaimana kambing (kabsy) tercinta Habil
daripada panenan (semacam gandum, disebut zuwan atau kuzan) 'minimalis' Qabil.
(Q.S. al-Maidah 5:27).
Dalam Islam, berkurban harus lillahi ta'ala. Karena menjalankan perintah
Allah; dan selalu atas perintah Allah. Karena secara literal, kata 'kurban'
(ق-ر-ب) juga memiliki arti 'mendekat'. Dari sinilah, kurban memang ditentukan
sebagai ibadah yang di antaranya fungsinya adalah mendekatkan diri kepada
Allah. Bagi yang telah memenuhi kriteria, terlebih lagi mampu sangat dilazimkan
untuk berkurban; bahkan jika menolak diancam tidak mendekati tempat sholat umat
muslim:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا (Ibnu Majah 3123)
Tentang hukum kurban, Allah SWT Berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا
رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ
أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ # الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ # وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ
شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا
صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ
وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ #
(Q.S. al-Hajj 22:34-36)
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (Q.S. al-Kautsar 108:2)
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ
إِهْرَاقِ دَمٍ , وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي قَرْنِهِ
بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا , وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ
اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ فِي الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
(Sunan Tirmidzi 1493; Sunan Kubra lil Baihaqiy 19047; Ibnu Majah 3126)
Tentu saja, makna hukumnya disepakati ulama sebagai sunnah muakkadah; baik
sunnah 'ainiyyah maupun sunnah kifayah; sebagaimana keterangan dalam hadits
Rasulullah tentang kurban, witir, dan dua raakat fajar:
ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ: النَّحْرُ، وَالْوِتْرُ،
وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ
(Mustadrak 'ala Shahihain 1119)
Generasi selanjutnya, Nabi Ibrahim juga berkurban. Bahkan perintah Allah
datang melalui mimpi; bahwa ia menyembelih putranya, Ismail. Ada bingung. Ada
sedih; karena akan kehilangan buah hati yang telah lama dinanti. Namun
keputusan harus segera diambil. Hati diteguhkan dan dilapangkan. Niat dan tekad
dibulatkan:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي
الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا
تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(Q.S. al-Shaffat 37:102)
Nabi Ibrahim pun bermusyawarah dengan Ismail sang anak. Ternyata sang anak
menyambut niat ayahnya. "Wahai ayahku, kerjakan saja apa perintah Allah;
engkau akan menemukanku sebagai orang yang sabar." Kesabaran dan keteguhan
kedua manusia tersebut diuji cukup berat. Bahkan dalam perjalanan menuju tempat
penyembelihan, iblis turut menggoda. Agar niat dibatalkan. Agar kurban
diurungkan. Agar Ismail diselamatkan. Karena perintah tidak rasional. Tidak
humanis. Melanggar hak asasi.
Namun, niat keduanya - atas Izin Allah - justru makin kuat. Yakin akan
Kebesaran Allah. Yakin akan Keadilan Allah. Anak hanya titipan. Hidup hanya
sementara. Iblis penggoda pun dilempari batu. Bukan hanya sekali; tapi tiga
kali. Kejadian monumental ini dikenang dan diabadikan sebagai ibadah lempar
jumroh sebanyak tiga kali: Ula, wustho, dan aqobah:
لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ
الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى
سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ
فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ
عِنْدِ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي
الْأَرْضِ
(Al-Mustadrak 'ala Shahihain lil Hakim 1713; Syi'bu al-Iman 3783; al-Jami'
al-Shahih vol. 10 hlm. 190)
Keduanya pun berserah. Pisau ditajamkan. Pelipis sang anak diletakkan di
atas landasan. Nabi Ibrahim berusaha menahan segala kasih sayang; berikut
berbagai memorinya bersama sang anak. Sang anak pun demikian. Karena niat dan
tekad sudah bulat, kata pamitan pun diucapkan dengan teguh: Usul agar pisaunya
tidak dihadapkan ke arahnya; agar ia tidak takut dan kuat jiwanya; agar mukanya
dihadapkan ke landasan sembelih, agar tekad ayahnya tidak melemah dan sanggup
mengayun pisau:
ياَ أَبَتِ أَقْذِفْنِي للوَجهِ كَيْلاَ تنظر إليَّ فَتَرْحَمْنِي، وأَنظرُ
أَنا إلى الشَفرة فأَجْزَعْ، ولكن أَدْخِلْ الشَفرة من تحتي، وامْضِ لأمر الله
(Tafsir Thabariy, vol. 21, hlm. 26)
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Keteguhan dan kepasrahan tersebut diabadikan dalam al-Qur'an. Sebagai
kepasrahan tingkat tinggi dan prima. Taat kepada perintah; meski di luar nalar
fikiran manusia. Karena yang memerintah adalah rabb sekaligus ilah-nya. Saat
tangan dikuatkan untuk mengayun pisau, bersamaan dengan dirasakannya leher anak
yang akan dipotong; pisau yang tajam meluncur. Kuat, pasti, dan disegerakan;
agar Ismail tidak menderita.
Tapi yang bersuara adalah kabsy, yakni sejenis kambing yang cukup besar dan
mengucur pula darahnya. Yang saat itu pula terdengar "Wahai Ibrahim,
Engkau telah membenarkan (mengerjakan) perintah!; demikianlah Kami memberi
ganjaran (mengganti Ismail dengan kambing) bagi orang yang berbuat
kebaikan."
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ # وَنَادَيْنَاهُ أَنْ
يَاإِبْرَاهِيمُ # قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ # إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ # وَفَدَيْنَاهُ
بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
(Q.S. al-Shaffat 37:103-107)
Nabi Musa pun diperintah berkurban. Yang dijadikan kurban sembelihan adalah
sapi; yang mana kala itu melambangkan sesembahan Bani Israil yang dibuat oleh
Samiri. Bukan melaksanakan, mereka 'ngeles' (berpaling) secara akademis: 'sapi
yang bagaimana? Warnanya apa?' bahkan setelah ditemukan sapi dengan kriteria
tersebut; masih ngeles: 'sapinya masih meragukan; jangan-jangan bukan sapi ini
yang dimaksud! Jangan merasa sapi itu sapi yang paling benar!, yang benar hanya
Tuhan!'. Mungkin begitu kira-kira perdebatannya.
Ada ketidakikhlasan. Bahkan hampir-hampir mereka tidak melaksanakannya. Pun
dilaksanakan, penuh keberatan dan alasan beragam. Itu saja masih dengan
mendongkol di belakang. Kepada nabi Musa. Yang dianggap menghina ritual
persembahan sapi emas mereka. Dan hingga sekarang, bani Israil yang sering
disebut Yahudi dan Nasrani; memang tidak pernah suka melihat keikhlasan seorang
muslim yang berkurban:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ
أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ
وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
(Q.S. al-Baqarah 2:120)
Para jama'ah yang dirahmati Allah,..
Ibadah kurban memang menekankan latihan ketaqwaan. Mengikhlaskan sebagian
harta demi kepentingan umat. Menyembelih egoisme dan ketamakan. Memotong kuasa
setan dalam aliran darah manusia; yang secara simbolis dilambangkan dengan
memotong hewan kurban. Yang terpenting, kesemuanya bernilai ibadah; sosial
maupun individual. Utamanya, bahwa yang diterima Allah dari kurban adalah
ketaqwaan; bukan darah atau dagingnya.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ
التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا
هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ #
(Q.S. al-Hajj 22:37)
Ketaqwaan direalisasikan dalam bentuk totalitas dalam berkurban.
Totalitasnya dicerminkan dalam memenuhi standar pelaksanaan kurban; yang mana
kita kenal sebagai rukun dan syarat kurban, demikian pula syarat hewan yang
layak jadi kurban. Yang berkurban adalah seorang muslim/muslimah, baligh,
berakal, merdeka, mampu, dan tidak terlilit kesulitan hutang yang sulit
dibayar.
Hewan kurban pun ditentukan kategorinya; yakni jenis memamah biak
(mujtarrah) dan menyusui; yakni dari jenis kambing (ma'z), domba/biri-biri
(dha'n)[4], sapi (baqarah), kerbau (jamus) dan unta (ibil). Keseluruhan hewan
tersebut harus mencapai usia yang diperbolehkan untuk disembelih, yakni 6 bulan
minimal untuk domba/biri-biri, 1 tahun untuk kambing, 2 tahun untuk sapi, dan 5
tahun untuk unta:
لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ تَعْسُرَ عَلَيْكُمْ،
فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ
(Ahmad: 14348, Muslim: 1963, Abu Dawud: 2797, dan Ibnu Majah: 3141)
Adapun ketentuan waktunya adalah usai sholat 'Id, ditambah 3 hari
setelahnya (hari tasyrik) hingga menjadi genap 4 hari. Karakteristik dan
kepemilikan hewan turut diperhatikan. Hewan kurban haruslah milik sendiri, atau
seizin pemilik hewan yang mewakilkan, tidak cacat (salim minal 'aib) mata,
pincang, terlalu kurus, atau berpenyakit:
أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْعَوْرَاءُ، الْبَيِّنُ عَوَرُهَا،
وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا،
وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تُنْقِي[5]
Untuk hewan semacam sapi dan unta diperbolehkan dengan urunan hingga 7
orang:
نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ
الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ (Muslim: 1318)
Menyembelih pun harus dengan menyebut nama Allah; jika tidak maka menjadi
haram. Bahkan ada sunnahnya tersendiri: memotong bagian tenggorokan. Dengan
pisau (شَفْرَة) yang tajam, harus dilakukan dengan tempo yang singkat,
dihadapkan ke kiblat. Secara saintifik, cara penyembelihan sesuai syariah
terbukti tidak menyakiti hewan.
Kurban sebagai ibadah; tentu dimensinya sangat menyeluruh. Ada cerminan
keteladanan. Ada pedagogi pendidikan keikhlasan. Ada aspek peningkatan
interaksi sosial. Ada prospek pengembangan ekonomi-sasi hewan kurban. Ada pula
gotong-royong dan keakraban sosial. Saling membantu 'menaklukan' sapi;
menguliti hewan, menimbang, membagi, bahkan menyiapkan makanan bagi ibadah
sosial yang amat mulia ini.
Lebih dari itu; ada motivasi berternak dengan baik. Hingga berfikir tentang
'pertanian dan peternakan terpadu'. Ada perkembangan ilmu peternakan; guna
menghasilkan hewan kurban berkualitas. Ada ilmu tentang kebersihan daging dan
memasaknya secara higienis. Ada usaha daging halal. Bahkan konon, kurban; yang
juga menghalalkan daging hewan ternak, merupakan 'pengendalian populasi' hewan
ternak dan produktivitasnya. Seandainya hewan tersebut hanya diternak tanpa
dikonsumsi, pastilah manusia kerepotan mengurusi bangkainya; atau hewan-hewan
tua yang tidak produktifnya.
Demikianlah Islam; hal-hal yang diperintahkan sebagai ibadah, tentulah
rasional; dan hal-hal yang rasional dan baik, pastilah disyariatkan. Baik
jangka panjang maupun jangka pendek. Baik maslahat individu maupun maslahat
sosial; makro maupun mikro; bahkan dunia dan akhirat.