Sajian utama
Hari Jadi ke 72 Polwan, Kapolri Minta Polwan Terus
Berkarya
Kapolri Jenderal Pol Idham Azis mengajak para
polwan untuk terus berkarya dan menjalankan peran sebagai pelindung, pengayom
dan pelayan masyarakat.“Selaku pimpinan Polri, saya mengucapkan Selamat Hari
Jadi ke 72 kepada seluruh polisi wanita RI di mana pun bertugas. Teriring doa,
semoga polwan RI dapat terus berkarya dan menunjukkan eksistensinya sebagai
pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat,” kata Wakapolri Komjen Pol Gatot
Eddy Pramono membacakan sambutan dari Kapolri Idham Azis, di Aula Rupatama
Mabes Polri, Jakarta, Selasa. Komjen Gatot menyampaikan bahwa Kapolri mengucapkan terima
kasih kepada para polwan atas dedikasi, kontribusi, prestasi dan pengabdian
kepada masyarakat dan NKRI selama 72 tahun.
Pihaknya mengajak para polwan untuk menjadikan
peringatan Hari Jadi Polwan tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat
soliditas dan meningkatkan kinerja di tengah pandemi COVID-19. Komjen Gatot
menyampaikan bahwa Kapolri mengucapkan terima kasih kepada para polwan atas
dedikasi, kontribusi, prestasi dan pengabdian kepada masyarakat dan NKRI selama
72 tahun.Pihaknya mengajak para polwan untuk menjadikan peringatan Hari Jadi
Polwan tahun ini sebagai momentum
Saat ini jumlah polwan di Indonesia tercatat ada 24.506 personel
yang terdiri dari tiga perwira tinggi, 1.567 perwira menengah, 355 perwira
pertama dan 19.581 bintara.Sejumlah jabatan strategis, baik di Mabes Polri,
Polda, Polres maupun Polsek saat ini telah banyak diisi oleh para polwan.Untuk
itu, Kapolri meminta para polwan untuk bekerja lebih baik lagi dan menunjukkan
prestasi.
Terakhir, Kapolri berpesan kepada para polwan untuk terus
melakukan kebaikan.
“Bekerja baik saja belum
tentu dinilai baik oleh masyarakat, apalagi jika kita bekerja tidak baik, maka
teruslah melakukan kebaikan. Biarkan proses alam dan Tuhan yang menilai apa
yang telah kamu kerjakan,” katanya. Pelaksanaan rangkaian Hari Jadi ke 72
Polwan ini telah dilaksanakan secara bertahap mulai dari 4 Agustus 2020 hingga
28 Agustus 2020 dan puncak peringatan pada Selasa.
PON
Pertama di Surakarta, Jawa Tengah
Peringatan Hari Olahraga
Nasional tidak semata-mata untuk mengenang hari kelahiran
suatu organisasi ataupun pahlawan di bidang olahraga melainkan sebuah momentum
untuk mengingat kembali suatu peristiwa bersejarah di bidang olahraga yang
memberikan inspirasi atau motivasi bagi seluruh Bangsa Indonesia.
Tujuan
utama Hari Olahraga
Nasional:
1. Komitmen seluruh
insan olahraga termasuk pendidikan keolahragaan bagi pelajar karena melihat
betapa penting dan strategisnya olahraga bagi kesehatan siswa untuk mencapai
cita-cita SDM unggul Indonesia maju,
2.Mengingatkan
kembali seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup
Sehat (GERMAS) yang juga ditindaklanjuti dengan Peraturan Menpora RI Nomor 18
tahun 2017 tentang Gerakan Ayo Olahraga,
3. Mengajak seluruh
elemen masyarakat Indonesia untuk melaksanakan gerakan olahraga secara masif
dan meluas di kegiatan sehari-hari,
4. Menumbuhkan
semangat mengajak semua lapisan masyarakat untuk melakukan olahraga secara
rutin dan teratur, baik pelajar, masyarakat, pekerja/karyawan dan semuanya.
PON pertama diselenggarakan di Stadion Sriwedari,
Surakarta Jawa Tengah pada 9-12 September 1948.Di mana pada akhirnya tanggal
pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yaitu 9 September ditetapkan sebagai
Hari Olahraga Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 tahun
1985.
Pesta
Olahraga ini dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno dan ditutup oleh Sri
Sultan Hamengkubuwono IX selaku Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).PON
pertama diikuti oleh peserta yang berasal dari tingkat karesidenan atau
kota.Ada 13 karesidenan atau kota yang berpartisipasi, yaitu Yogyakarta,
Madiun, Magelang, Semarang, Bandung, Malang, Surakarta, Surabaya, Pati, Kedu,
Banyuwangi dan Jakarta.Surakarta menjadi juara umum PON Pertama dengan meraih 36 medali dari total 108
medali yang terdiri dari emas, perak dan perunggu.
PON pertama ini juga diikuti sekitar 600 atlet yang
berkompetisi dalam beberapa cabang olahraga yaitu Bulu Tangkis, Tenis, Panahan,
Renang, Basket, Atletik, Lempar Cakram dan Sepak Bola Alasan memilih Kota
Surakarta sebagai tempat penyelenggaraan adalah karena sarana olahraga di kota
ini dianggap telah memenuhi persyaratan pokok.Stadion Sriwedari yang dilengkapi
lampu penerangan serta kolam renang dan berbagai fasilitas olahraga lain pada
zamannya adalah termasuk yang terbaik di Indonesia.Adapun maksud dan tujuan
penyelenggaraan PON pertama ini adalah untuk menunjukkan pada dunia luar bahwa
Bangsa Indonesia dalam kondisi yang baru saja mengecap kemerdekaan sanggup
menggalang persatuan dan kesatuan serta tetap bersatu kokoh dalam semboyan
Bhineka Tunggal Ika.
Tak
hanya itu, penyelanggaraan PON pertama ini tidak haya terkait pada prestasi olahraga
dalam negeri saja, namun juga berhubungan dengan gengsi serta harkat dan
martabat bangsa.
Berawal
dari ditolaknya Indonesia oleh Inggris yang menjadi tuan rumah Olimpiade ke-14.
Indonesia
yang kala itu baru saja merdeka dianggap belum layak mengikuti olimpiade karena
belum memiliki prestasi apapun di bidang olahraga.Namun, alasan yang sebenarnya
adalah karena saat itu Inggris merupakan sekutu Belanda yang masih belum
menerima kemerdekaan Indonesia.Indonesia yang merasa tersinggung dengan penolakan
Inggris kemudian menggelar konferensi darurat di Solo tahun 1948 untuk
mengadakan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Radio Republik Indonesia
Setiap tanggal 11 September diperingati sebagai
Hari Radio Nasional. Ditanggal yang sama itu juga diperingati sebagai hari kelahiran
Radio Republik Indonesia (RRI) yang didirikan pada 11 September 1945, maka tak
heran jika tanggal 11 September juga sering disebut sebagai Hari RRI.
Tapi, pernahkah anda tahu bagaimana sejarah
diperingatinya Hari Radio atau Hari RRI. Begini ceritanya.
RRI didirikan sebulan setelah siaran radio Hoso
Kyoku dihentikan tanggal 19 Agustus 1945. Saat itu, masyarakat menjadi buta
akan informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia
merdeka. Apalagi, radio-radio luar negeri saat itu mengabarkan bahwa tentara
Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera.
Tentara Inggris dikabarkan akan melucuti tentara
Jepang dan memelihara keamanan sampai pemerintahan Belanda dapat menjalankan
kembali kekuasaannya di Indonesia. Dari berita-berita itu juga diketahui bahwa
sekutu masih mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia dan kerajaan Belanda
dikabarkan akan mendirikan pemerintahan benama Netherlands Indie Civil
Administration (NICA).
Menanggapi hal tersebut, orang-orang yang pernah
aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari radio merupakan alat yang
diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi
tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.
Wakil-wakil dari 8 bekas radio Hosu Kyoku
mengadakan pertemuan bersama pemerintah di Jakarta.
Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delegasi
radio sudah berkumpul di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon dan diterima
sekretaris negara. Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah
Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita,
Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Malad
.
Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi
menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut. Salah satunya adalah
mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara
pemerintah dengan rakyat mengingat tentara sekutu akan mendarat di Jakarta
akhir September 1945. Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat
dan tidak mudah terputus saat pertempuran
.
Untuk modal operasional, delegasi radio
menyarankan agar pemerintah menutut Jepang supaya bisa menggunakan studio dan
pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku.
Mendengar hal itu, sekretaris negara dan para
menteri keberatan karena alat-alat tersebut sudah terdaftar sebagai barang
inventaris sekutu. Para delegasi pun mengambil sikap meneruskan rencana mereka
dengan memperhitungkan risiko peperangan
.
Pada akhir pertemuan, Abdulrachman Saleh membuat
simpulan antara lain, dibentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia yang akan
meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa, mempersembahkan RRI kepada
Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta
mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui
Abdulrachman Saleh
.
Pemerintah menyanggupi simpulan tersebut dan
siap membantu RRI meski mereka tidak sependapat dalam beberapa hal.
Pada pukul 24.00, delegasi dari 8 stasiun radio
di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Para delegasi yang ikut
rapat saat itu adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad dan Soedomomarto dari
Yogyakarta, Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan Soetardi Hardjolukito
dari Surakarta, serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung.
Dua daerah lainnya, Surabaya dan Malang tidak ikut serta karena tidak adanya
perwakilan. Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan
Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Red dari berbagai sumber
Sejarah Hari Perhubungan Nasional
Melansir laman resmi Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Aceh,
Hari Perhubungan Nasional atau yang biasa disingkat dengan Harbubnas ditetapkan
pertama kali pada tahun 1971.Dulunya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor
perhubungan memiliki hari jadi masing-masing yang waktunya relatif berdekatan.Karena
dinilai tidak efisien dari segi waktu dan biaya, akhirnya hari jadi di
sektor-sektor perhubungan tersebut disatukan menjadi Hari Perhubungan Nasional
yang diperingati setiap 17 September.
Penetapan Hari Perhubungan Nasional ini
ditetapkan oleh Menteri Perhubungan RI saat itu yakni Drs. Frans Seda dengan
surat keputusan no. S.K. Keputusan tersebut diambil atas pertimbangan perlu
adanya penyederhanaan pelaksanaan hari jadi di lingkungan perhubungan dan
pelaksanaan peringatan semua unsur perhubungan (transpor dan komunikasi) yang
diintegrasikan
Memberitakan,
sasaran pemerintah dalam operasi perhubungan yang disampaikan Frans Seda dalam
peringatan Hari Perhubungan pertama kali adalah perhubungan mampu memenuhi lima
kriteria yakni murah, aman cepat, enak dan tepat waktu.Kala itu, masih dalam
suasana peringatan Hari Perhubungan, beberapa program terkait lalu lintas di
Jawa Timur diresmikan dalam waktu yang berdekatan.
Beberapa di antaranya adalah pada 22 September 1971, kapal dari
Ketapang dan Gilimanuk yang semula hanya 10 jam sehari ditingkatkan
pelayanannya menjadi 24 jam.Peningkatan pelayanan itu diharapkan akan lebih
melancarkan pengiriman ternak dari Bali ke Jawa, serta agar para penumpang yang
melakukan perjalanan Jawa-Bali tak kehilangan waktu.
Selain itu, program lain yakni sekitar tanggal 1 September, pengangkatan
kerangka kapal perang masa perang dunia ke-2 yang tenggelam di Selat Madura
juga mulai dilakukan.Melansir laman Dishub
Aceh, Peringatan Harbubnas memiliki 3 tujuan utama yakni:
1.
Meningkatkan rasa kebersamaan dan jiwa korsa warga Perhubungan serta
dengan mitra kerja jasa Perhubungan;
2.
Meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab untuk selalu ikut
membudayakan peningkatan pelayanan yang lebih baik;
3.
Meningkatkan penghayatan dan pengamalan 5 citra manusia
Perhubungan.
Secara singkat, Hari Perhubungan Nasional merupakan sarana
instrospeksi diri bagi insan perhubungan terkait dengan pelayanannya terhadap
masyarakat.
Hari Perhubungan Nasional 2020
Laman Dishub Jabar menuliskan, Kementerian Perhubungan kali
ini mengusung tema “Wujudkan Asa, Majukan Indonesia” dalam rangka peringatan
Hari Perhubungn Nasional 2020.Tema tersebut memiliki makna, insan perhubungan
memiliki semangat untuk mewujudkan harapan ke depan untuk Indonesia Maju.Selain
itu, pembangunan sektor transportasi terus dilakukan, perubahan-perubahan
terhadap regulasi juga terus dilakukan saat adaptasi kebiasaan baru.
Hal itu dilakukan agar mampu memberikan pelayanan transportasi
yang selamat, aman , nyaman serta sehat.Adapun logo Harbubnas 2020 kali ini,
mengambil filosofi awal dari simpul tali yang mengikat kuat keberagaman dan
simbol hati yang berarti kecintaan terhadap Transportasi.
Hari Tani
Nasional 2020, Serikat Petani Indonesia (SPI): Meneguhkan Reforma Agraria untuk
Mewujudkan Kedaulatan Pangan
Berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia (RI) Soekarno Nomor 169 Tahun 1963, tanggal 24
September ditetapkan sebagai peringatan Hari Tani. Dipilihnya tanggal 24
September bertepatan dengan tanggal dimana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) disahkan. UUPA 1960
merupakan spirit dan menjadi dasar dalam upaya perombak struktur agraria
Indonesia yang timpang dan sarat akan kepentingan sebagian golongan akibat
warisan kolonialisme di masa lalu.
Enam dasawarsa berlalu sejak disahkannya UUPA
1960, kini reforma agraria di Indonesia tengah memasuki tantangan baru.
Memasuki periode kedua pemerintahannya, komitmen Presiden Joko Widodo terkait
reforma agraria masih ditunggu. Pada periode pertama pemerintahannya, bersama
Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun 2014-2019, Presiden Joko Widodo memasukkan
reforma agraria dan kedaulatan pangan sebagai program prioritas dalam Nawa Cita
(sembilan program prioritas).
Untuk itu, SPI akan menyelenggarakan
rangkaian kegiatan Hari Tani Nasional, dimulai pada 17 September dan diakhiri
pada 30 September 2020.
Berikut detilnya:
- Pembukaan Rangkaian Kegiatan Hari Tani Nasional
24 september 2020 SPI & deklarasi serta Peresmian kampung reforma
agraria di Desa Pasir Datar, Caringin, Sukabumi, Jawa Barat (17 September)
- Deklarasi Kampung Reforma Agraria, Konferensi
Pers, Syukuran/Rapat Umum /Dialog Publik, Diskusi Perpres 88/2017 dan
Perpres 86/2018 (17-29 September 2020 di berbagai wilayah di seluruh
nusantara)
- Dialog SPI – KOMNASHAM, 19 September 2020
- Deklarasi GEMAPETANI tingkat nasional (19/20
September 2020)
- Diskusi Daring, “Reforma Agraria dan Penyelesaian
Konflik Agraria dalam RPJMN 2020-2024” (21 September 2020)
- Diskusi Daring “Petani dalam RUU Cipta Kerja” (22
September 2020)
- Massa aksi di wilayah (21-29 September 2020
- Aksi Peringatan HTN 2020 di Nasional dan Wilayah
(24 September 2020)
- Seminar Pemuda tingkat Internasional (25/26/27/28
September 2020)
- Diskusi Daring Internasional, “Reforma agraria di
Indonesia, Asi Tenggara; pelaksanaan dan tantangannya dewasa ini , 29
September 2020
- Rapat umum penutupan Rangkaian Peringatan HTN
2020, 30 September 2020.
Ini
Cara KAI Memperingati Hari Pelanggan 2020
Setiap tanggal 4
September, seperti hari ini, Jumat (4/9/2020), Indonesia memperingati Hari
Pelanggan Nasional. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memanfaatkan momentum
tersebut untuk mendedikasikan diri menambah semangat perusahaan memberikan
pelayanan yang prima kepada pelanggan. Banyak hal-hal yang dilakukan di
berbagai wilayah kerja KAI seperti membagikan Voucher Tiket KA, goodie
bag, dan Merchandise kepada penumpang kereta api.
Selain itu sebagai bentuk pencegahan penularan Covid-19 KAI juga
rutin memberikan edukasi dan sosialisasi tentang Memakai Masker, Mencuci
tangan, dan Menjaga Jarak (3M) kepada penumpang. Pada Hari
Pelanggan Nasional 2020 di Area Stasiun, seluruh petugas frontliner (petugas
loket, costumer service, kondektur) KAI yang bertugas juga memeri salam
"Selamat Hari Pelanggan". Announcer pun secara berkala akan menyapa
penumpang dengan ucapan “Selamat Hari Pelanggan". Adanya peringatan Hari
Pelanggan Nasional ini, KAI diharapkan dapat terus memberikan kepuasan kepada
seluruh pelanggan KA di manapun berada. (Public Relations KAI)
Peringatan hari sarjana
Banyak
masyarakat mungkin tidak mengetahui jika hari ini, ada hari penting dari dunia
pendidikan. Ya, setiap 29 September, Indonesia memperingati Hari Sarjana
Nasional.Sarjana sendiri adalah gelar strata satu yang dicapai seseorang setelah tamat
dari pendidikan tingkat akhir di perguruan tinggi.
Hari Sarjana Nasional
memang tak sepopuler hari-hari penting lainnnya di Indonesia. Keberadaannya
bahkan hanya seperti bayangan semu. Namun, Hari Sarjana Nasional tercacatat
sebagai hari penting dan diperingati setiap tahunnya di Indonesia, tepatnya
pada 29 September.
Ketika mencoba menggali
historis dan asal-usul ditetapkannya Hari Sarjana Nasional setiap 29 September,
namun kami tidak menemukannya. Belum ada keterangan sejarah soal lahirnya Hari
Sarjana Nasional.
Bahkan meski diperingati
setiap tahun, hingga saat ini belum ada acara atau perayaan khusus untuk
memeriahkan Hari Sarjana Nasional. Tetapi, Hari Sarjana Nasional sendiri
bertujuan untuk mengapresiasi para sarjana yang telah berhasil menyabet strata
intelektualitas. Pasalnya, para sarjana dianggap sebagai salah satu yang menjadi penentu
kemajuan bangsa. Para sarjana merupakan aset bangsa yang diharapkan bisa
memberi sumbangsih bagi pembangunan Indonesia.