Peringatan Maulud Nabi
Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi Muhammad adalah peringatan kelahiran Rasulullah SAW, yang jatuh pada Selasa (19/10/2021). Namun hari libur digeser menjadi Rabu (20/10/2021) untuk mencegah terjadinya kerumunan dan peningkatan kasus COVID-19 di tanggal merah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad, seperti tahun
sebelumnya, dilakukan seluruh muslim di Indonesia. Peringatan bertujuan
meningkatkan rasa cinta, yang diwujudkan dengan mengikuti sunnah Nabi SAW dan
ketentuan dalam Al Quran demi kemajuan Islam.
Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW selalu
mengundang rasa penasaran masyarakat. Peneliti astronomi senior Prof Thomas
Djamaluddin menjelaskan kapan Nabi Muhammad SAW lahir dalam penanggalan masehi
(M), yang banyak digunakan di Indonesia.
"Saat kelahiran Nabi tersebut bertepatan
dengan hari Senin 5 Mei 570 M. Nabi lahir pada tahun gajah, yaitu saat Abraha
dan pasukan bergajahnya ingin menghancurkan Ka'bah yang digagalkan Allah
SWT," kata Prof Thomas dalam siaran zoom berjudul Kisah Rasul Dalam
Perspektif Astronomi. Berikut adalah salah satu hadits yang menceritakan
kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas,
وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ
عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ
Artinya: "Rasulullah dilahirkan di hari
Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun
Gajah."
Selain sesuai hadits, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah
juga menjadi pendapat umum terkait kapan Rasulullah SAW lahir. Momen tersebut
bertepatan dengan awal musim semi yang tidak terlalu panas atau dingin, dengan
durasi siang dan malam relatif sama.
Prof Thomas menjelaskan, Tahun Gajah terjadi pada
53 tahun sebelum hijrah. Secara matematis tahun tersebut dapat dinyatakan
sebagai tahun -53 Hijriah (H). Tahun inilah yang kemudian dihitung mundur untuk
mengetahui kelahiran Rasulullah SAW.
Maulid Nabi Muhammad yang ditandai kelahiran
Rasulullah SAW bukan satu-satunya peristiwa yang dihitung mundur dalam kalender
masehi. Berbagai peristiwa besar lain dalam kehidupan nabi juga diketahui
momennya dengan metode ini.
Hal ini disebabkan sistem kalender Hijriah yang
baru ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Sistem ini diterapkan
setelah umat muslim kesulitan dalam urusan administrasi, manajemen dan
mengidentifikasi dokumen. Sebelumnya penanggalan hanya dilakukan berdasarkan
peristiwa besar yang diingat tiap orang.
Maulid Nabi Muhammad biasanya dirayakan sesuai
tradisi di tiap wilayah. Namun peringatan jangan sampai mengabaikan protokol
kesehatan untuk mengantisipasi keramaian dan risiko melonjaknya kasus COVID-19.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW dijelaskan dalam
tulisan berjudul Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di
Indonesia). Tulisan ini dibuat Moch Yunus dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul
Hasan Genggong Kraksaan, Probolinggo.
"Menurut sejarah ada dua pendapat yang
menengarai awal munculnya tradisi Maulid. Istilah maulid berasal dari bahasa
Arab Walada Yalidu Wiladan yang berarti kelahiran," tulis jurnal tersebut
mengutip dari Kamus Al Munawwir Arab Indonesia.
A. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali
diadakan pada zaman khalifah Mu'iz li Dinillah. Dia adalah khalifah dinasti
Fathimiyah di Mesir yang
hidup pada tahun 341 Hijriyah. Perayaan ini
dilarang di masa Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy, seorang perdana menteri khalifah
Al-Musta'ali dinasti Fathimiyah.
Maulid Nabi kembali dibolehkan pada masa
pemerintahan Amir li Ahkamillah pada tahun 524 Hijriah. Dia adalah pemimpin
sekaligus imam di Dinasti Fathimiyah. Pendapat ini dinyatakan sejarawan dan
ulama asal Mesir Syamsuddin as-Sakhawi.
Pendapat lain tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
menyatakan, peringatan pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan khalifah
Mudhaffar Abu Said. Sang khalifah saat itu sedang mencari cara membangkitkan
heroisme kaum muslim menghadapi Jengis Khan. Acara diadakan besar-besaran untuk
memperlihatkan kebesaran Islam dan negara yang dipimpinnya. Sang khalifah
berkuasa di bawah bendera dinasti Fathimiyah. Wilayah kekuasaan dinasti
meliputi Afrika Utara, Mesir, dan Suriah.
Perayaan dilakukan tujuh hari tujuh malam dengan
hidangan berasal dari 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju. Acara
ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas dan 30 ribu piring makanan. Peringatan
ini dikatakan sukses meningkatkan moral dan heroisme kaum muslim.
B. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW versi Sultan
Salahuddin
Jurnal
tersebut juga menjelaskan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW yang berasal dari
masa pemerintahan Sultan Salahudin Al Ayubi. Sultan ingin meningkatkan semangat
juang dan persatuan kaum muslim, dengan meningkatkan kecintaan pada nabinya.
Usul perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sempat
mendapat penolakan dari para ulama, karena dinilai tak sesuai ajaran Islam.
Sultan kemudian menjelaskan, perayaan hanya bersifat syiar keagamaan bukan
ritual. Perayaan juga bukan sekadar peringatan ulang tahun.
Setelah mendengar alasan ini, Khalifah An-Nashir
di Bagdad menyetujui usul sang sultan. Selanjutnya di musim haji 1183 Masehi,
sang sultan meminta para jamaah menyiarkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di
negara asalnya pada 12 Rabiul Awal.
C. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 2020 dan
2021
Maulid
Nabi Muhammad SAW 2020 jatuh pada Rabu (28/10/2020), sedangkan pada tahun ini
perayaan dilaksanakan pada Senin (18/10/2021). Di Indonesia, perayaan Maulid
Nabi Muhammad SAW berkembang di masa Wali Songo. "Peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW bertujuan menarik hati masyarakat agar memeluk Islam. Perayaan ini
berkembang di tahun 1404 Masehi," tulis situs Asosiasi Perguruan Tinggi
Swasta Indonesia (Aptisi).
Masyarakat muslim Indonesia umumnya menyambut
Maulid Nabi dengan membaca sholawat nabi, syair Barzanji, dan pengajian. Maulid
Nabi Muhammad memiliki sebutan berbeda di beberapa daerah misal perayaan
Syahadatin, Gerebeg Mulud, atau tradisi endhog-endhogan di Jawa Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar