Minggu, 03 Oktober 2021

Moment

 Peringatan Maulud Nabi 

    

Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad adalah peringatan kelahiran Rasulullah SAW, yang jatuh pada Selasa (19/10/2021). Namun hari libur digeser menjadi Rabu (20/10/2021) untuk mencegah terjadinya kerumunan dan peningkatan kasus COVID-19 di tanggal merah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad, seperti tahun sebelumnya, dilakukan seluruh muslim di Indonesia. Peringatan bertujuan meningkatkan rasa cinta, yang diwujudkan dengan mengikuti sunnah Nabi SAW dan ketentuan dalam Al Quran demi kemajuan Islam.
Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW selalu mengundang rasa penasaran masyarakat. Peneliti astronomi senior Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan kapan Nabi Muhammad SAW lahir dalam penanggalan masehi (M), yang banyak digunakan di Indonesia.

"Saat kelahiran Nabi tersebut bertepatan dengan hari Senin 5 Mei 570 M. Nabi lahir pada tahun gajah, yaitu saat Abraha dan pasukan bergajahnya ingin menghancurkan Ka'bah yang digagalkan Allah SWT," kata Prof Thomas dalam siaran zoom berjudul Kisah Rasul Dalam Perspektif Astronomi. Berikut adalah salah satu hadits yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas,


وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ


Artinya: "Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun Gajah."

Selain sesuai hadits, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah juga menjadi pendapat umum terkait kapan Rasulullah SAW lahir. Momen tersebut bertepatan dengan awal musim semi yang tidak terlalu panas atau dingin, dengan durasi siang dan malam relatif sama.

Prof Thomas menjelaskan, Tahun Gajah terjadi pada 53 tahun sebelum hijrah. Secara matematis tahun tersebut dapat dinyatakan sebagai tahun -53 Hijriah (H). Tahun inilah yang kemudian dihitung mundur untuk mengetahui kelahiran Rasulullah SAW.

Maulid Nabi Muhammad yang ditandai kelahiran Rasulullah SAW bukan satu-satunya peristiwa yang dihitung mundur dalam kalender masehi. Berbagai peristiwa besar lain dalam kehidupan nabi juga diketahui momennya dengan metode ini.
Hal ini disebabkan sistem kalender Hijriah yang baru ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Sistem ini diterapkan setelah umat muslim kesulitan dalam urusan administrasi, manajemen dan mengidentifikasi dokumen. Sebelumnya penanggalan hanya dilakukan berdasarkan peristiwa besar yang diingat tiap orang.


Maulid Nabi Muhammad biasanya dirayakan sesuai tradisi di tiap wilayah. Namun peringatan jangan sampai mengabaikan protokol kesehatan untuk mengantisipasi keramaian dan risiko melonjaknya kasus COVID-19.

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW dijelaskan dalam tulisan berjudul Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia). Tulisan ini dibuat Moch Yunus dosen Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan, Probolinggo.
"Menurut sejarah ada dua pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid. Istilah maulid berasal dari bahasa Arab Walada Yalidu Wiladan yang berarti kelahiran," tulis jurnal tersebut mengutip dari Kamus Al Munawwir Arab Indonesia.


A. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan pada zaman khalifah Mu'iz li Dinillah. Dia adalah khalifah dinasti Fathimiyah di Mesir yang
hidup pada tahun 341 Hijriyah. Perayaan ini dilarang di masa Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy, seorang perdana menteri khalifah Al-Musta'ali dinasti Fathimiyah.
Maulid Nabi kembali dibolehkan pada masa pemerintahan Amir li Ahkamillah pada tahun 524 Hijriah. Dia adalah pemimpin sekaligus imam di Dinasti Fathimiyah. Pendapat ini dinyatakan sejarawan dan ulama asal Mesir Syamsuddin as-Sakhawi.

Pendapat lain tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW menyatakan, peringatan pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan khalifah Mudhaffar Abu Said. Sang khalifah saat itu sedang mencari cara membangkitkan heroisme kaum muslim menghadapi Jengis Khan. Acara diadakan besar-besaran untuk memperlihatkan kebesaran Islam dan negara yang dipimpinnya. Sang khalifah berkuasa di bawah bendera dinasti Fathimiyah. Wilayah kekuasaan dinasti meliputi Afrika Utara, Mesir, dan Suriah.

Perayaan dilakukan tujuh hari tujuh malam dengan hidangan berasal dari 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas dan 30 ribu piring makanan. Peringatan ini dikatakan sukses meningkatkan moral dan heroisme kaum muslim.


B. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW versi Sultan Salahuddin

Jurnal tersebut juga menjelaskan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW yang berasal dari masa pemerintahan Sultan Salahudin Al Ayubi. Sultan ingin meningkatkan semangat juang dan persatuan kaum muslim, dengan meningkatkan kecintaan pada nabinya.

Usul perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sempat mendapat penolakan dari para ulama, karena dinilai tak sesuai ajaran Islam. Sultan kemudian menjelaskan, perayaan hanya bersifat syiar keagamaan bukan ritual. Perayaan juga bukan sekadar peringatan ulang tahun.

Setelah mendengar alasan ini, Khalifah An-Nashir di Bagdad menyetujui usul sang sultan. Selanjutnya di musim haji 1183 Masehi, sang sultan meminta para jamaah menyiarkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di negara asalnya pada 12 Rabiul Awal.

C. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 2020 dan 2021

Maulid Nabi Muhammad SAW 2020 jatuh pada Rabu (28/10/2020), sedangkan pada tahun ini perayaan dilaksanakan pada Senin (18/10/2021). Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berkembang di masa Wali Songo. "Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertujuan menarik hati masyarakat agar memeluk Islam. Perayaan ini berkembang di tahun 1404 Masehi," tulis situs Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi).

Masyarakat muslim Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan membaca sholawat nabi, syair Barzanji, dan pengajian. Maulid Nabi Muhammad memiliki sebutan berbeda di beberapa daerah misal perayaan Syahadatin, Gerebeg Mulud, atau tradisi endhog-endhogan di Jawa Timur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar