Puisi
1.
Tata Hati
Berpuluh
kali tak henti mengingatkan
Aturlangkah jangan gegabah
Tata
hati sedari dini
Mengurai
agenda perlu rencana
Taksekadarmengumbarjanji
***
Manisnya
kata kadang membawa petaka
Bila hanya dicerna tanpa makna
Tanpa diurai oleh
rasa
Seakan melambung penuhi jiwa
Bergelora …
***
Optimis haruslah dibina
Melang lang mengembara raihasa
Terseok pun
takmengapa
Berdarah-darah
pun biasa
Mengapai bahagia banyak coba
Hendaklah kuat…
Jangan sampai binasa
***
Kalbulah kunci utama
Sekali tergelincir
Akan
tersingkir segala impian
Terpental dari angan
Kesuksesan sulit terbayang
Apalagi kebahagian
Pastilah enyah dantak kansinggah
Patri lahcinta…
Sekuat hati menjaga
agama
2. MERDEKA BELAJAR
Sempat “terbelalak hingga bersorak”
Horeeee...Bebas... Merdeka...
Tanpa aturan ini - itu
Akhirnya apa yang dipinta tercapai jua
Apa yang dikeluhkan musnah seketika
Sepanjang pemahaman belum tercerna
***
Sejatinya “Merdeka” berarti bebas memilih
Menentukan mana yang disuka
Menentukan mana kemampuan yang dikembangkan
Menentukan keahlian masing-masing pribadi jiwa
Juga mengali kelebihan diri yang menjadi inspirasi
Juga menggali potensi yang diunggulkan
Lebih pada tanggung jawab pada kerja nyata
***
Tugas utama adalah memberikan pemahaman
Pada anak didik sasaran perjuangan
Agar tercipta karya yang diagungkan
Dengan riang menyambut kegiatan belajar
Pantang menyerah sebelum asa dalam pelukan
***
Lahan yang mesti dikerjakan
Hanyalah mengantarkan anak didik
Dengan hati lapang juga keikhlasan
Berbagai keinginan bisa terarahkan
Menjadi kekuatan wujudkan angan-angan
Jiwa terbuka menggapai asa
***
Wahai...pelajar di seluruh nusantara
Mari berbakti, wujud cinta pada negara
Berprestasi adalah impian
Setiap lini diberbagai bidang
Teruslah melangkah...
Semangat pantang menyerah adalah kunci
Mengabdikan diri untuk bumi pertiwi
Matanya terbelalak kala disebut namanya
Kaget luar biasa...spotanitas berdiri
Selama ini belum pernah namanya bergema
Di ruangan tempatnya menggali inspirasi
Didengungkan oleh guru tercinta
***
“Siaap buu...”
Mulutnya terbata menjawab
“Silakan maju...”
Pinta bu Guru
Dengan wajah tegang, dia melangkah tenang
Sampai depan kelas, kaki terasa gemetar
Kepala menunduk, sedikit demi sedikit didongakkan
“waduuh, luas juga ya kelasku” batinnya
Seakan tak kuasa, puluhan pasang mata menatapnya
Tak berkedip, seakan menghakimi seperti terdakwa
Jiwanya terus bergejolak “kenapa aku yang diminta maju”
***
Bu guru melangkah mendekatiku
Mengulurkan tangan tanda ucapan selamat
Senyumku berkembang, hatiku berteriak riang
Menikmati batin yang menari-nari akan kejadian yang tiada diduga
Kuamati selembar kertas yang bertuliskan “Piagam Penghargaan”
Sepanjang perjalanan tak berhenti mendoa
Begitulah cara Sang Pencipta mengangungkan umat-Nya
***
Keberanianku mulai tumbuh...
Kemampuanku ternyata tak sepicik yang mereka kira
Ucapan selamat dari kawan telah menggugurkan anggapan negatifku
Kan kutatap masa depan penuh gairah
Sikap dan perilaku positif menghantarkan ke gerbang kesuksesan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar